Ponorogo, sinarpos – Potensi benih jagung unggul MTE 09 hasil riset Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mulai menarik perhatian petani di Kabupaten Ponorogo. Sebanyak 22 perwakilan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dari 22 desa di Kecamatan Slahung melakukan studi lapangan ke lahan milik PT Ponorogo Agro Mandiri (PAM), Sabtu (25/7/2026).
Kunjungan yang didampingi Koordinator dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Slahung itu dilakukan untuk melihat secara langsung performa tanaman jagung MTE 09 yang dikembangkan PT PAM sebagai mitra produksi benih hasil inovasi ITS.
Ketua Gapoktan Kecamatan Slahung, Sugiono, mengatakan kunjungan tersebut berawal dari informasi mengenai produktivitas jagung MTE 09 yang diklaim mampu menghasilkan hingga 10 ton per hektare.
"Kami ingin memastikan langsung bagaimana kondisi tanaman di lapangan. Setelah melihat dan berdiskusi dengan Pak Manto, hasilnya memang sangat baik. Karena itu kami tertarik mencoba menanam varietas ini di wilayah Slahung," kata Sugiono.
Menurut dia, pengamatan langsung menjadi referensi penting bagi petani sebelum memutuskan penggunaan benih pada musim tanam berikutnya.
Koordinator PPL Kecamatan Slahung, Juni Indarto, menyebut studi lapangan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat transfer teknologi kepada petani. Selain mengamati pertumbuhan tanaman, peserta juga berdiskusi mengenai karakteristik benih, teknik budidaya, hingga potensi hasil panen.
"Petani mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif sehingga bisa menilai langsung potensi varietas ini sebelum diterapkan di lapangan," ujarnya.
Direktur PT Ponorogo Agro Mandiri, Manto Setiawan, mengatakan pihaknya mendapat kepercayaan dari ITS untuk memproduksi sekaligus mengembangkan benih jagung MTE 09.
Ia menjelaskan, peserta studi lapangan melihat tanaman jagung berumur 30 hingga 40 hari sekaligus memperoleh penjelasan mengenai varietas MTE 09 yang dipasarkan dengan merek dagang Jagung REOG 126.
"Kami berterima kasih kepada Rektor ITS atas kepercayaan yang diberikan. Hari ini kami berdiskusi secara langsung dengan rekan-rekan Gapoktan mengenai performa tanaman dan prospek pengembangan benih MTE 09," ujar Manto.
Menurutnya, tingginya antusiasme petani menunjukkan inovasi berbasis riset perguruan tinggi mulai mendapat respons positif di sektor pertanian. Kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan petani dinilai menjadi salah satu driving force untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah berkomitmen mempercepat hilirisasi hasil riset perguruan tinggi melalui kerja sama dengan ITS. Salah satu inovasi yang mendapat perhatian ialah benih jagung MTE 09 yang disebut memiliki potensi produktivitas hingga 10 ton per hektare, lebih tinggi dibanding rata-rata produksi nasional.
Pemerintah berharap inovasi tersebut dapat memperkuat produksi jagung nasional sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan melalui pemanfaatan teknologi hasil riset dalam negeri.(*)




Posting Komentar