Teguh Wiyono, Langkah Menuju Wakil Bupati Ponorogo, Tak Hanya Berikan Gagasan, Sudah Jalankan Program Untuk Kesejahteraan Masyarakat

PONOROGO, SINAR POST – Peta politik Ponorogo perlahan bergerak. Sejumlah nama mulai muncul dalam pembicaraan mengenai sosok yang akan mengisi posisi Wakil Bupati Ponorogo, seiring proses politik yang terus berkembang.

Di antara nama-nama yang mulai diperbincangkan, Teguh Wiyono menjadi salah satu figur muda yang menarik perhatian. Pria asli Bajang, Kecamatan Balong, itu memilih membangun langkah melalui silaturahmi dan dialog dengan berbagai elemen, sembari membawa sejumlah gagasan yang dinilainya dapat memberi manfaat bagi masyarakat Ponorogo.

Ditemui secara khusus, Kamis (10/9/2026), Teguh berbicara terbuka mengenai proses yang sedang dijalaninya. Ia menyebut hubungannya dengan Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita hingga kini berlangsung baik dan tetap berada dalam koridor profesional.

“Bagi saya, hubungan yang baik bukan hanya soal kedekatan personal. Yang lebih penting adalah bagaimana hubungan itu bisa memberikan manfaat konkret bagi Ponorogo,” ujarnya.

Menurut Teguh, salah satu bentuk manfaat tersebut adalah upaya membuka akses program dan jejaring di tingkat nasional agar dapat masuk dan dirasakan masyarakat Ponorogo.

Ia menyebut sejumlah program yang tengah didorong, mulai dari revitalisasi sekolah yang diproyeksikan menyasar 10 sekolah pada 2026 dan 40 sekolah pada 2027, revitalisasi 10 puskesmas, beasiswa pendidikan kedokteran ke luar negeri, peluang pendidikan bagi anak-anak Ponorogo, hingga program pelatihan dan penempatan tenaga kerja.

Bagi Teguh, sebuah relasi akan memiliki arti ketika mampu melahirkan manfaat nyata. Karena itu, jejaring yang dibangun dengan berbagai pihak diarahkan pada satu kepentingan: memperkuat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia juga menilai kesinambungan pembangunan merupakan hal penting. Program dan visi pembangunan yang sudah berjalan, menurutnya, tidak seharusnya berhenti hanya karena terjadi perubahan figur dalam pemerintahan.

“Visi dan misi yang sudah dibangun harus dilanjutkan. Kita tidak mungkin mengubah arah pembangunan di tengah jalan. Yang perlu dilakukan adalah memperkuat program yang sudah baik dan menyempurnakannya hingga 2029,” katanya.

Merawat Jejaring Politik

Di tengah proses tersebut, Teguh juga terus membangun jejaring dengan partai politik. Ia menyebut partai merupakan bagian penting dalam perjalanan politik sekaligus ruang untuk memperjuangkan gagasan pembangunan.

Ia mengaku telah menyampaikan sejumlah dokumen, mulai dari visi dan misi, komitmen, profil hingga persyaratan yang dibutuhkan kepada partai yang sedang dijajaki.

Namun, Teguh memahami bahwa keputusan mengenai rekomendasi sepenuhnya berada di tangan struktur partai.

Pertemuan dengan jajaran partai di tingkat Jawa Timur maupun Ponorogo pun terus dilakukan. Tidak semata membicarakan kemungkinan politik, tetapi juga mendengar berbagai persoalan, harapan, dan gagasan yang berkembang.

“Menurut saya, eksekutif dan legislatif harus berjalan selaras. Kalau tidak ada sinergi, program sebagus apa pun akan sulit berjalan maksimal,” tuturnya.

Dari Elite Politik ke Ruang Masyarakat

Bagi Teguh, perjalanan menuju bursa wakil bupati tidak cukup hanya dengan membangun jejaring di lingkungan politik. Ia juga mulai turun menemui masyarakat dan berbagai kelompok yang memiliki perhatian terhadap masa depan Ponorogo.

Tokoh masyarakat, budayawan, pelaku seni Reog, pengrajin hingga masyarakat di tingkat bawah menjadi bagian dari ruang dialog yang ia bangun.

“Saya ingin mendengar langsung apa yang menjadi harapan masyarakat. Aspirasi itu yang kemudian menjadi bahan untuk menentukan langkah,” katanya.

Latar belakangnya sebagai santri juga membuat hubungan dengan lingkungan Nahdlatul Ulama, Ansor, Banser dan sejumlah tokoh senior NU terus terjaga.

Ia mengaku kembali bersilaturahmi dengan sejumlah tokoh yang sebelumnya pernah memberikan dorongan kepadanya.

“Saya datang untuk meminta doa, restu dan masukan. Saya masih muda dan masih harus banyak belajar,” ujarnya.

Pendekatan serupa juga dilakukan dengan lingkungan Muhammadiyah. Latar belakang pendidikan Teguh di Universitas Muhammadiyah menjadi salah satu jembatan yang membuat hubungan tersebut terus terawat.

Menurutnya, perbedaan latar belakang organisasi tidak seharusnya menjadi sekat dalam membangun daerah.

“Harapan saya, semua elemen bisa kompak. NU, Muhammadiyah, tokoh masyarakat, budayawan, partai politik dan masyarakat secara keseluruhan memiliki kepentingan yang sama, yaitu bagaimana Ponorogo menjadi lebih baik,” katanya.

Tidak Sekadar Menunggu Momentum

Teguh menyadari bahwa dirinya masih relatif muda. Namun, ia memilih tidak menjadikan usia sebagai alasan untuk menunggu datangnya kesempatan.

Ia justru mulai memperkenalkan diri dan memperluas pergaulan dengan berbagai lapisan masyarakat. Baginya, publik tetap perlu mengenal sosok yang sedang berproses, meskipun mekanisme pengisian Wakil Bupati Ponorogo nantinya tidak melalui pemilihan langsung oleh masyarakat.

“Saya tidak menganggap langkah ini sebagai perjalanan seorang diri. Saya membutuhkan nasihat, masukan dari berbagai pihak dan tentu kepercayaan masyarakat,” ucapnya.

Bagi Teguh, proses tersebut bukan sekadar tentang siapa yang nantinya menduduki kursi wakil bupati. Lebih dari itu, ada gagasan dan program yang harus dipersiapkan agar setiap peluang yang tersedia dapat dikonversi menjadi manfaat bagi masyarakat.

“Minimal masyarakat tahu siapa yang sedang berproses, apa gagasannya, dan apa yang ingin dilakukan untuk Ponorogo. Setelah itu, masyarakat sendiri yang menilai,” pungkasnya.(dd)

0/Post a Comment/Comments

Dibaca