PONOROGO, SINAR POST – Perbincangan mengenai sosok yang akan mengisi posisi Wakil Bupati Ponorogo mulai mendapat perhatian publik. Di tengah proses menuju penetapan Lisdyarita sebagai Bupati Ponorogo definitif, sejumlah nama pun perlahan muncul dan menjadi bagian dari political conversation di Bumi Reog.
Salah satu nama yang belakangan cukup menarik perhatian adalah Manto Setiawan. Pengusaha yang selama ini dikenal bergerak di sektor pertanian, khususnya jagung, semangka dan tembakau, mulai diperbincangkan sebagai salah satu figur yang dinilai memiliki pengalaman di dunia usaha sekaligus memahami dinamika politik dan birokrasi.
Nama Manto juga tidak bisa dilepaskan dari kiprahnya melalui Omega Jaya, termasuk pengembangan sektor pertanian yang selama ini menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatiannya.
Sekretaris Jenderal Komunitas Masyarakat Santri (KOMAS), Ustadz Bahar Harahap, merupakan salah satu pihak yang cukup mengenal sosok Manto Setiawan. Ia menyebut, pembicaraan mengenai figur Wakil Bupati saat ini masih merupakan dinamika yang terbuka.
Menurutnya, hal terpenting bukan sekadar siapa nama yang muncul, melainkan bagaimana figur tersebut mampu membaca harapan masyarakat dan kebutuhan Ponorogo di masa mendatang.
"Terkait dinamika politik di Ponorogo, kami sendiri masih dalam hal melihat harapan dan keinginan masyarakat Ponorogo ke depannya seperti apa," ujar Ustadz Bahar saat dihubungi, Rabu (9/9/2026).
Ia menilai, proses pengisian Wakil Bupati nantinya tidak hanya membutuhkan pertimbangan politik, tetapi juga sosok yang mempunyai track record dan kepedulian terhadap pembangunan daerah.
Dalam pandangan Ustadz Bahar, Manto Setiawan memiliki sejumlah pengalaman yang menarik untuk dicermati, terutama kiprahnya di sektor pertanian.
"Kami melihat Pak Manto secara pribadi sebagai sosok yang ulet, yang peduli terhadap kemajuan warga Ponorogo, terutama di sektor pertanian. Sejauh ini sudah menghasilkan jagung varietas baru yang dibutuhkan masyarakat. Bahkan belakangan juga mengembangkan komoditas lain, seperti semangka dan tembakau," katanya.
Bagi Ustadz Bahar, sektor pertanian merupakan salah satu ruang penting yang membutuhkan perhatian berkelanjutan. Karena itu, pengalaman dan keterlibatan langsung seseorang di lapangan menjadi modal tersendiri dalam memahami persoalan masyarakat.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa jika kemudian muncul wacana menduetkan Lisdyarita dengan Manto Setiawan, hal tersebut tetap merupakan bagian dari dinamika politik yang membutuhkan dukungan masyarakat.
"Yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah kerja nyata dan konkret. Ketika ada wacana untuk menduetkan Lisdyarita dan Manto Setiawan, tentu juga tergantung dukungan dari masyarakat Ponorogo," ujarnya.
Menurutnya, meskipun mekanisme pengisian Wakil Bupati nantinya berada di DPRD, suara dan aspirasi masyarakat tetap memiliki arti penting dalam proses politik tersebut.
"Walaupun nanti prosesnya di DPRD, tapi suara dari masyarakat tentu juga ada pengaruh pada keputusan politik," lanjutnya.
Di luar dinamika mengenai figur, Ustadz Bahar melihat ada hal yang lebih mendasar dalam menentukan arah pembangunan Ponorogo ke depan.
Menurutnya, Ponorogo memiliki identitas yang kuat sebagai daerah dengan tradisi pesantren sekaligus kebudayaan yang hidup melalui Reog. Dua kekuatan tersebut, kata dia, semestinya tetap menjadi bagian dari vision pembangunan daerah.
Ia mengingatkan kembali sejarah Pesantren Tegalsari yang menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan tradisi pesantren di Jawa.
"Ponorogo itu melalui Pesantren Tegalsari menjadi salah satu pioneer pesantren di Pulau Jawa. Artinya, peradaban santri itu sudah sangat kuat. Maka ini harus menjadi salah satu perhatian," ujarnya.
Selain tradisi pesantren, Reog juga dinilai memiliki posisi penting sebagai identitas budaya Ponorogo.
"Yang kedua budaya Reog. Kita berharap nilai-nilai budaya ini juga menjadi salah satu acuan orientasi pembangunan ke depan," katanya.
Bagi Ustadz Bahar, pesantren dan budaya bukan sekadar bagian dari sejarah. Keduanya merupakan cultural capital yang dapat menjadi kekuatan Ponorogo dalam membangun karakter daerah sekaligus menghadirkan pembangunan yang memiliki akar kuat pada identitas masyarakatnya.
Karena itu, ia berharap siapa pun figur yang nantinya dipercaya mendampingi Bupati Ponorogo dapat memahami karakter dan kebutuhan masyarakat secara utuh.
"Simplenya, bagaimana meneguhkan Ponorogo sebagai kota santri dan kota budaya. Dan ini sangat penting bagi kami yang pernah nyantri di Ponorogo," pungkasnya.
Pada akhirnya, perbincangan mengenai figur Wakil Bupati bukan hanya tentang siapa yang akan berada di kursi pendamping kepala daerah. Lebih dari itu, publik tengah menantikan sosok yang mampu menerjemahkan harapan masyarakat ke dalam kerja nyata, sekaligus menjaga dua wajah penting Ponorogo: tradisi santri dan kekuatan budaya Reog.(dd)
Posting Komentar