STIE Ganesha dan Kementerian Desa Dan PDT RI Jajaki Kolaborasi Strategis Lewat Program "Desa Mitra Kampus"

Jakarta, SINARPOS - 26 Agustus 2026 – Guna mempercepat pembangunan ekonomi di pedesaan, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ganesha Jakarta melakukan audiensi dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi (PEI) Desa dan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Rabu (26/8/2026). Forum yang digelar di Ruang Rapat Direktur Jenderal PEI ini menjadi ajang pemaparan gagasan bernama "Program Kemitraan Strategis Desa Mitra Kampus," sebuah inisiatif yang dirancang untuk menjembatani keterbatasan kapasitas manajemen di desa melalui pendampingan akademisi dari perguruan tinggi.

Audiensi yang diselenggarakan secara hibrida ini menghadirkan pimpinan STIE Ganesha dan sejumlah pejabat eselon di lingkungan Ditjen PEI, baik secara langsung maupun melalui sambungan daring. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Nota Dinas Biro Hubungan Masyarakat Kemendes PDTT yang menilai bahwa substansi kerja sama yang diusulkan sejalan dengan prioritas pembangunan kementerian, terutama dalam penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan. Dalam sambutannya, Sekretaris Direktorat Jenderal PEI, Drs. Syahrul, M.Si., menyatakan bahwa inisiatif dari STIE Ganesha mendapatkan apresiasi karena visinya yang seirama dengan upaya pemerintah dalam mempercepat pembangunan desa.


Kolaborasi Strategis yang Melibatkan 28 Elemen Pemangku Kepentingan

Forum audiensi ini berlangsung dengan skala nasional, ditandai dengan kehadiran sedikitnya 28 pihak dari berbagai satuan kerja di lingkungan Kementerian Desa PDTT. Dari kubu STIE Ganesha, hadir langsung H. Alimudin Almurtala selaku Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Graha Ganesha (YPGG), Dr. Arief Noor, M.Pd., MM. sebagai Ketua STIE Ganesha, serta jajaran pimpinan lainnya, yakni Achmad Fadli, SE., MM (Wakil Ketua I Bidang Akademik), Tahang, SE., MM (Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama), Aep Saefullah, S.HI., MM (Ketua Lembaga Penelitian & Pengembangan Masyarakat), Ramadanni Pardian, S.T., M.M (Ketua SPMI), dan Sahrudin, SH., MM (Ketua Badan Pengurus Harian YPGG).

Sementara dari jajaran Ditjen PEI, turut hadir para Analis Kebijakan Ahli Madya dari enam direktorat, mulai dari Sekretariat Direktorat Jenderal, Direktorat Perencanaan Teknis, Direktorat Kelembagaan Ekonomi dan Investasi, Direktorat Pelayanan Investasi, Direktorat Pengembangan Produk Unggulan, hingga Direktorat Promosi dan Pemasaran Produk Unggulan. Tak hanya itu, sejumlah Sekretaris dari unit eselon I lainnya di Kementerian Desa PDTT turut mengikuti audiensi secara daring, termasuk dari Inspektorat Jenderal, Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan, Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Badan Pengembangan dan Informasi Desa dan Daerah Tertinggal, serta Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Kehadiran Kepala Bagian Kerja Sama Sekretariat Jenderal beserta Tim Kerja Fasilitasi Kerja Sama Lintas Kementerian/Lembaga juga melengkapi forum yang sarat akan makna kolaboratif ini.


Konsep "Desa Mitra Kampus" sebagai Solusi Pembangunan Perdesaan

Gagasan utama yang diusung STIE Ganesha dalam audiensi ini adalah model kemitraan jangka menengah-panjang yang memadukan Tridarma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat ke dalam tiga kluster aksi yang terukur dan aplikatif. Dr. Arief Noor menegaskan bahwa program ini diharapkan mampu memberikan jawaban konkret terhadap persoalan yang dihadapi desa. "Kami ingin kampus tidak hanya menjadi tempat belajar semata, tetapi juga menjadi mitra yang terlibat aktif dalam memecahkan masalah di lapangan, mulai dari penataan keuangan BUMDes hingga digitalisasi layanan administrasi desa," paparnya.

Ruang lingkup kolaborasi yang ditawarkan tergolong komprehensif. Mulai dari pendampingan pengelolaan BUMDes, pengembangan UMKM serta sektor pariwisata desa, pembangunan sistem informasi berbasis digital, hingga peningkatan kapasitas aparatur desa. Keunggulan yang ditawarkan STIE Ganesha adalah pemetaan yang presisi antara bidang pendampingan dengan program studi yang tersedia, mulai dari S1/S2 Manajemen, S1 Akuntansi, hingga nantinya S1 Teknik Sipil dan Ilmu Komputer. "Kami merancang penugasan akademik ini secara terukur agar keahlian dari tiap prodi bisa langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat desa," ungkap Ramadani Pardian, Ketua SPMI STIE Ganesha.


Menuju Universitas Graha Ganesha: Transformasi dan Perluasan Kapasitas Keilmuan

Dalam forum yang sama, H. Alimudin Almurtala selaku Ketua Pembina YPGG menyampaikan perkembangan penting mengenai rencana transformasi STIE Ganesha menjadi Universitas Graha Ganesha. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperluas kapasitas keilmuan serta jangkauan pengabdian kepada masyarakat. "Kami tengah mematangkan proses perubahan status dari sekolah tinggi menjadi universitas, yang akan diikuti dengan pembukaan empat program studi baru di bidang teknologi dan teknik. Hal ini akan semakin mengokohkan sinergi kami dengan Kementerian Desa dalam memberikan pendampingan yang lebih holistik bagi desa-desa di Indonesia," tuturnya.

Rencana transformasi ini juga didukung oleh kesiapan infrastruktur yang mumpuni, dengan tiga gedung kampus milik sendiri yang berada di Tangerang Selatan, serta rekam jejak akreditasi yang teruji. Saat ini, STIE Ganesha telah memperoleh akreditasi institusi dari BAN-PT dan akreditasi program studi dari LAMEMBA dengan predikat "Baik Sekali" untuk S2 Magister Manajemen dan S1 Akuntansi, serta "Baik" untuk S1 Manajemen. Ke depan, dengan hadirnya empat program studi baru yakni S1 Teknik Sipil, S1 Ilmu Komputer, S1 Sistem dan Teknologi Informasi, serta S1 Bisnis Digital Universitas Graha Ganesha diharapkan memiliki portofolio keilmuan yang lebih lengkap untuk menjawab kebutuhan pembangunan desa yang semakin multidimensi.


Pengalaman Lapangan dan Skema Pembiayaan yang Inovatif

Kehadiran STIE Ganesha dalam forum ini tidak datang tanpa bekal pengalaman nyata. Kampus yang telah berdiri sejak 1993 ini telah menunjukkan komitmen melalui berbagai riset aksi di berbagai daerah. Salah satu contohnya adalah riset mendalam di Desa Ponggok, Klaten, yang menghasilkan identifikasi praktik terbaik pengelolaan keuangan BUMDes berbasis ekowisata dengan pendapatan asli desa yang mencapai Rp 19 miliar per tahun. Selain itu, kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk Program Desa Mitra Kampus juga telah memasuki tahap finalisasi draf Nota Kesepahaman.

"Kesuksesan Desa Ponggok menjadi bukti nyata bahwa sinergi multipihak dan tata kelola yang baik mampu menjadikan desa mandiri secara ekonomi," ujar Aep Saefullah, Kepala LPPM STIE Ganesha. "Pengalaman ini menjadi modal berharga bagi kami untuk mengembangkan model serupa di desa-desa lain di Indonesia."

Salah satu aspek krusial yang ditekankan dalam paparan adalah skema pendanaan kolaboratif yang tidak membebani APBN. Skema ini mengedepankan prinsip gotong royong antar pemangku kepentingan, dengan mengoptimalkan regulasi Dana Desa untuk peningkatan kapasitas aparatur dan pendampingan BUMDes, serta didukung penuh oleh Yayasan Pendidikan Graha Ganesha melalui pemberian beasiswa dan fasilitas akademik. Pendekatan ini sejalan dengan arahan pimpinan Kementerian Desa PDTT yang mendorong sinergi dengan perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam pembangunan desa.


Rencana Aksi Menuju Replikasi Nasional

Paparan yang disampaikan juga memuat rencana aksi yang terbagi dalam empat tahapan mulai tahun 2026 hingga 2029, yang dimulai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di tingkat kementerian sebagai landasan hukum kolaborasi. "Target kami hari ini adalah menyepakati langkah tindak lanjut yang nyata setelah audiensi ini, agar kerja sama operasional dapat segera dimulai," tegas Dr. Arief Noor.

Audiensi ini menjadi penanda penting dalam upaya menggerakkan peran aktif akademisi dalam pembangunan desa. Dengan kesiapan institusi yang solid dan visi yang terarah, Program Desa Mitra Kampus yang diusung STIE Ganesha berpotensi menjadi model nasional bagi sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam memberdayakan ekonomi desa. Transformasi menuju Universitas Graha Ganesha ke depan diyakini akan semakin memperkuat komitmen ini secara berkelanjutan, sehingga dampak positif yang dihasilkan dapat dirasakan oleh lebih banyak desa di seluruh Indonesia.(*)

0/Post a Comment/Comments

Dibaca