Sedikitnya 100 petani dari wilayah Slahung dan Bungkal hadir dalam panen raya tersebut. Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar seremoni, tetapi kesempatan untuk melihat dari dekat bagaimana performa varietas jagung hasil riset ketika ditanam dan dipanen di lahan.
Panen raya turut dihadiri Prof. Muryono bersama tim peneliti ITS, jajaran Gapoktan, PT PAM, serta M. Mansyur Shodiq, Pimpinan Pondok Pesantren Ibadurrohhman Ngengong, Kota Blitar.
Direktur PT Ponorogo Agro Mandiri, Manto Setiawan, menyebut keterlibatan petani dalam pengembangan MTE 09 menjadi bagian penting dari proses field trial. Petani tidak hanya mendengar mengenai keunggulan varietas tersebut, tetapi dapat melihat dan menilainya secara langsung.
“Hari ini kita panen Jagung Reog 126 Varietas MTE 09 sehingga para petani dapat melihat langsung kualitasnya,” kata Manto.
Menurut Manto, tanaman MTE 09 yang telah dibudidayakan petani menunjukkan pertumbuhan yang baik. Dari pengamatan selama proses budidaya, varietas ini juga dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap penyakit.
Dari sisi produktivitas, hasil panen MTE 09 disebut berpotensi mencapai sekitar 10 ton per hektare.
“Sejauh ini terbukti lebih tahan terhadap penyakit dan hasil panennya juga jauh lebih bagus. Potensinya bisa mencapai 10 ton per hektare,” ujarnya.
Bagi Manto, panen raya menjadi semacam proof of concept—sebuah pembuktian di lapangan bahwa hasil penelitian dapat diuji secara nyata dan dinilai langsung oleh petani.
Ia berharap semakin banyak petani yang tertarik mengenal dan mencoba varietas tersebut berdasarkan pengalaman nyata di lahan.
“Kami berharap petani dapat membuktikan sendiri keunggulan Jagung Reog 126 Varietas MTE 09,” imbuhnya.
Di tengah aktivitas panen, Prof. Muryono menegaskan bahwa perjalanan MTE 09 belum berhenti. Penelitian akan terus dilakukan melalui proses evaluasi dan pengembangan untuk mendapatkan performa varietas yang semakin optimal.
Menurutnya, pengembangan varietas ini merupakan bagian dari riset yang diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan.
“MTE 09 tidak melibatkan mahasiswa, tetapi seluruhnya dilakukan oleh tim peneliti. Ke depan akan ada MTE lainnya yang terus dikembangkan,” jelasnya.
Proses continuous improvement menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Setiap hasil di lapangan menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan penelitian berikutnya, sekaligus menyesuaikan dengan kebutuhan petani.
Sementara itu, pengalaman petani menjadi cerita tersendiri.
Sugiono, Ketua Gapoktan Kecamatan Slahung, mengaku telah menanam Jagung Reog 126 Varietas MTE 09. Dari pengalaman budidaya tersebut, ia merasakan hasil yang cukup memuaskan.
“Hasil sangat memuaskan. Tangguh, adaptif dan rendemen tinggi,” ungkap Sugiono.
Ia pun berencana menyampaikan pengalaman tersebut kepada petani lain di wilayah Ponorogo agar semakin banyak petani yang mengetahui potensi varietas MTE 09.
“Tentu akan kita sosialisasikan secara luas kepada para petani di wilayah Ponorogo,” lanjutnya.
Panen raya Jagung Reog 126 Varietas MTE 09 akhirnya menjadi lebih dari sekadar aktivitas memetik hasil tanaman. Ada pertemuan antara hasil riset, pengalaman petani dan kebutuhan pertanian di lapangan.
Dari lahan Sekar Pudak, sebuah proses knowledge transfer berlangsung secara sederhana: peneliti membawa hasil riset, petani melihat dan mencoba, kemudian pengalaman di lapangan kembali menjadi bahan evaluasi.
Sebuah siklus yang diharapkan terus bergerak, dari laboratorium menuju lahan, dari lahan kembali menjadi pengetahuan, dan pada akhirnya memberi manfaat bagi petani serta ketahanan pangan Ponorogo.(dd)



Posting Komentar