Ponorogo, sinarpos – Ada pemandangan berbeda pada Selasa (16/9/2025), Kepala Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Eko Mulyadi, terlihat memegang palu besi di besalen milik Supriadi, seorang pembuat keris asal Terpatih, Desa Galak, Kecamatan Slahung.
Dengan penuh kesungguhan, ia memukul besi panas tujuh kali—tanda dimulainya pembuatan sebuah pusaka desa.
Bagi Eko, langkah ini bukan sekadar ritual simbolis. Lebih dari itu, ia ingin mewujudkan harapan agar Desa Karangpatihan memiliki keris pusaka sebagai identitas sekaligus pengingat bahwa leluhur meninggalkan warisan penuh makna.
“Kedatangan kita ini ingin mewujudkan harapan agar Desa Karangpatihan memiliki pusaka berupa keris, sebagai identitas dan simbol kekayaan budaya, seni, dan filosofi masyarakat,” ucap Eko dengan mata berbinar.
Menurutnya, kehadiran keris pusaka nanti bisa menjadi jembatan agar generasi muda lebih dekat dengan warisan budaya. Apalagi, keris telah lama diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 2005, dan pada 2008 masuk dalam daftar representatif.
“Dari berbagai pertimbangan, kami memilih Empu Supriadi yang berasal dari Ponorogo. Semoga harapan ini berjalan dengan baik,” tambahnya.
Di sisi lain, Supriadi mengaku merasa terhormat mendapat kepercayaan membuat keris bagi sebuah desa. Bagi dirinya, setiap tempaan besi bukan hanya membentuk bilah, tetapi juga menyatukan doa, harapan, dan filosofi hidup.
“Hari ini Pak Eko menempa tujuh kali sebagai tanda dimulainya pembuatan keris. Mohon doa restu agar semua tahapan berjalan dengan baik,” tutur Supriadi dengan nada penuh kehati-hatian.
Lebih dari sekadar senjata pusaka, keris yang kelak menjadi milik Desa Karangpatihan diharapkan menjadi simbol persatuan warganya. Sebuah pengingat, bahwa di balik sebilah logam yang ditempa api dan palu, tersimpan cerita panjang tentang budaya, jati diri, dan kearifan lokal Ponorogo.(dd)

Posting Komentar